Aku berjalan agak berbungkuk, napasku memburu cepat menangkap udara,
mataku nanar menatap kedepan, kakikupun kulangkah pendek tapi cepat
mendekati lari. Tapi tangan kananku tetap saja kumasukkan kedalam
kantong jaket tebal hitam dari kulit, serta tangan kiri yang sesekali
mengusap keringat dingin yang mulai berganti dengan keringat asin tanda
tubuh mulai memanas.
Aku masih sibuk untuk berpikir dengan hati, saat sesekali jantungku berdebup kencang dan darahku dikompa dengan deras melewati kedua belah bilik jantungku. Lalu respon yang terjadi kadang tidak sama dengan sensasi yang kurasa dibagian lain dari dadaku, saat irama yang semula santai mulai berdetak dengan cepat. Kurasa memang ini biasa atau kalaupun tidak normal, ini merupakan sebuah perwujudan obsesi seorang pemuda lajang tak beristri …
Tidak! Pisau dari nuraniku menikam hatiku lagi, membuat perih dan borok luka kembali dibuat sembari tak lupa kepedihan yang teramat mulai menggelayap dipunggung membuat bulu kuduk berdiri seperti baru saja mendengar cerita hantu. Ini tidak mungkin pikirku, ini tidak harus kulakukan dikala kehidupan memang lagi dilingkupi dengan rasa kesepian yang tak berhingga.
Aku tidak serius dan tidak siap untuk ini! Demikian teriak hatiku keras keudara yang kemudian menguap bak asap.
Lalu kakiku pun terus melangkah menyusuri jalanan beraspal tapi gelap, membawa tubuhku membelah angin malam yang menyelusup diantara kancing jaket yang kubuka separuh karena mulai kepanasan tubuhku terasa.
Lalu tiba akhirnya ku di depan pintu itu …
Kuraih segera dompet tipis hitam penuh bopeng putih yang terselip disaku belakang celana jeans murahan dari pasar malam pinggir kali, kuteliti dengan penuh nafsu sembari nafas semakin cepat tak berirama, dengan suara napas bergelora yang terasa panas, yang kini memenuhi kepala serta membuat mataku dipenuhi kunang-kunang laknat yang semakin banyak.
Apa aku siap pikirku? Apa ini yang memang aku inginkan? Apa ini akhir penantian itu? Tidak haruskah aku menunggu lebih lama lagi? Tidakkah ini akan melanggar pendirianku sendiri tentang makna hidup sebagai seorang lelaki bertanggung jawab, seorang pemuja maskulinitas dan kejantanan lelaki, seorang penggaul rasa bebas seluas samudra biru tak bertepi, seorang pencinta hidup kebebasan sejati, yang ironisnya didera rasa kesepian abadi!
Tapi dengan mantap kuambil selembar kertas kasar berwarna merah dan masuklah ku dengan mantap kedalam rumah itu …
Dan hingga saat ini akupun tak ingat lagi apa yang telah aku lakukan, selain keperkasaan yang hilang dari pandanganku, serta keinginan untuk hidup yang kini berganti menjadi kemunafikan, menjadi sebuah pertanyaan besar tentang kekuatan, karena sudah aku serahkan hartaku yang paling kujaga kepada Mak Erot, tukang urut spesial salah urat langganan teman kantorku. Ah akhirnya rusak sudah perwujudan egoisme seorang lelaki milikku, yang dulu pernah bersumpah untuk menyerahkan perbaikan tubuh hanya kepada proses alam dan kekuatan lelaki sejati …
* seperti yang diceritakan kepada bisaku oleh seorang petualang sejat
Aku masih sibuk untuk berpikir dengan hati, saat sesekali jantungku berdebup kencang dan darahku dikompa dengan deras melewati kedua belah bilik jantungku. Lalu respon yang terjadi kadang tidak sama dengan sensasi yang kurasa dibagian lain dari dadaku, saat irama yang semula santai mulai berdetak dengan cepat. Kurasa memang ini biasa atau kalaupun tidak normal, ini merupakan sebuah perwujudan obsesi seorang pemuda lajang tak beristri …
Tidak! Pisau dari nuraniku menikam hatiku lagi, membuat perih dan borok luka kembali dibuat sembari tak lupa kepedihan yang teramat mulai menggelayap dipunggung membuat bulu kuduk berdiri seperti baru saja mendengar cerita hantu. Ini tidak mungkin pikirku, ini tidak harus kulakukan dikala kehidupan memang lagi dilingkupi dengan rasa kesepian yang tak berhingga.
Aku tidak serius dan tidak siap untuk ini! Demikian teriak hatiku keras keudara yang kemudian menguap bak asap.
Lalu kakiku pun terus melangkah menyusuri jalanan beraspal tapi gelap, membawa tubuhku membelah angin malam yang menyelusup diantara kancing jaket yang kubuka separuh karena mulai kepanasan tubuhku terasa.
Lalu tiba akhirnya ku di depan pintu itu …
Kuraih segera dompet tipis hitam penuh bopeng putih yang terselip disaku belakang celana jeans murahan dari pasar malam pinggir kali, kuteliti dengan penuh nafsu sembari nafas semakin cepat tak berirama, dengan suara napas bergelora yang terasa panas, yang kini memenuhi kepala serta membuat mataku dipenuhi kunang-kunang laknat yang semakin banyak.
Apa aku siap pikirku? Apa ini yang memang aku inginkan? Apa ini akhir penantian itu? Tidak haruskah aku menunggu lebih lama lagi? Tidakkah ini akan melanggar pendirianku sendiri tentang makna hidup sebagai seorang lelaki bertanggung jawab, seorang pemuja maskulinitas dan kejantanan lelaki, seorang penggaul rasa bebas seluas samudra biru tak bertepi, seorang pencinta hidup kebebasan sejati, yang ironisnya didera rasa kesepian abadi!
Tapi dengan mantap kuambil selembar kertas kasar berwarna merah dan masuklah ku dengan mantap kedalam rumah itu …
Dan hingga saat ini akupun tak ingat lagi apa yang telah aku lakukan, selain keperkasaan yang hilang dari pandanganku, serta keinginan untuk hidup yang kini berganti menjadi kemunafikan, menjadi sebuah pertanyaan besar tentang kekuatan, karena sudah aku serahkan hartaku yang paling kujaga kepada Mak Erot, tukang urut spesial salah urat langganan teman kantorku. Ah akhirnya rusak sudah perwujudan egoisme seorang lelaki milikku, yang dulu pernah bersumpah untuk menyerahkan perbaikan tubuh hanya kepada proses alam dan kekuatan lelaki sejati …
* seperti yang diceritakan kepada bisaku oleh seorang petualang sejat
