SETAJAM PEDANG MENJAMAH LIDAH
Tajam lidah tak seindah wajah ludah merajam jiwa, kata jadi senjata pejam mata terkurung kelam wanitaku tak lagi berpayung emas rembulan hilang ditelan denawa gerhana di tubuhnya..
Setajam pedang menjamah lidah mencacah gugusan bual sial, pecah begitu miris terlempar jadi tangis di lembah-lembah takdir yang anyir, mata kanak-kanak menggelinding lupa buah matang menanti panen dan kehidupan ingin dikupas dengan sangkur tajamnya indera sebab disana, mutiara lebih indah dari caci di antara syukur yang akur membuka remang dada-dada timpang di ladang jiwa rembulan tertanam..
Gaduh setengah kehendak kaki menginjak bumi begitu basi berlendir puisi, sajak-sajak tak enak selaksa bulan kehilangan warna..
Langit remang sudut pandang hitam kelabu otak tak berpijak, lelucon cengoh menatap pingsan, mati puisi tak mampu bersetubuh, hampa kayu lapuk rapuhpun tak jadi jiwa-jiwa kukata adalah arca bisu, kaku, cermin kau tatap retak di matamu tuna..
Tajam lidah tak seindah wajah ludah merajam jiwa, kata jadi senjata pejam mata terkurung kelam wanitaku tak lagi berpayung emas rembulan hilang ditelan denawa gerhana di tubuhnya..
Setajam pedang menjamah lidah mencacah gugusan bual sial, pecah begitu miris terlempar jadi tangis di lembah-lembah takdir yang anyir, mata kanak-kanak menggelinding lupa buah matang menanti panen dan kehidupan ingin dikupas dengan sangkur tajamnya indera sebab disana, mutiara lebih indah dari caci di antara syukur yang akur membuka remang dada-dada timpang di ladang jiwa rembulan tertanam..
Gaduh setengah kehendak kaki menginjak bumi begitu basi berlendir puisi, sajak-sajak tak enak selaksa bulan kehilangan warna..
Langit remang sudut pandang hitam kelabu otak tak berpijak, lelucon cengoh menatap pingsan, mati puisi tak mampu bersetubuh, hampa kayu lapuk rapuhpun tak jadi jiwa-jiwa kukata adalah arca bisu, kaku, cermin kau tatap retak di matamu tuna..
