Skip to main content

TAK HENDAK MEMETIK SANJUNGAN, AKU HANYALAH KEBERANIAN YANG TEGAR DEMI KEBENARAN.

TUNAIKANLAH TUGASMU.
WAHAI DIRI,MESKIPUN BINTANG MAMPU ENGKAU RAIH,INGATLAH TANAH PIJAKANMU YANG SLALU MENANTI DAN KAU PASTI KEMBALI.
UNTUK ITU, JAGA SIKAPMU! JAGA LISANMU, JAGA LAKU.
KAMU TIADA DIBIARKAN BERSEKEHENDAKMU, ENGKAU DIAWASI, DIEMBANKAN TUGAS DAN DIMINTAI PERTANGGUNG JAWABAN.
MAKA TUNAIKANLAH TUGASMU DAN PETIKLAH BINTANG SEBANYAK YANG ENGKAU MAU,SEBAGAI HIASAN DITATAPMU, MENJELANG ENGKAU TERTIDUR LELAP SELAMANYA.
JADILAH ARIF BUKAN NA'IF, BIJAK BUKAN TAMAK, PATUH BUKAN ANGKUH, BERWELAS ASIH LAH AGAR NYA SAYANG.
SELAMAT PAGI.
Tak hendak meraup pujian, aku hanya menyuarakan suara yang tak sempat menggema lantang. Meneriakkan kebenaran dari balik tirani.

Mewakili yang tak sempat terwakilkan. Mendampingi yang terlupakan.
Suara ku ialah teriakan jerit nurani. Bahasa kesucian hati-hati terlindas ke kejaman takdir.
Tak hendak memetik sanjungan, aku hanyalah keberanian yang tegar demi kebenaran.

 Tak berpijakan, tak bersandaran. Namun ada karena kebenaran itu ialah kebenaran yang tak harus terkubur karena rasa takut mengurung fikiran yang penuh pertimbangan.

Terserah kalian beranggapan buruk tentang aku, terserah bila kemudian aku menjadi momok yang dipenuhi ejekan dan caci maki. Namun yang aku tahu, kebenaran itu adalah kebenaran. Ia akan selalu sama dimanapun atau kapan pun.
 Karena bagiku, bila semua diam maka ketidak benaran akan meraja. Keburukan akan berkuasa, ketidak adilan akan menjadi timbangan tak seimbang antara realita dan fakta.

Mungkin aku menampungkan leher di ujung pedang penguasa, barangkali aku menantang matahari karena kepolosan, namun yang aku tahu, kebenaran itu akan selalu adalah sebuah kebenaran. Ia akan selalu sama, tidak berubah dan selalu tetap dengan wujud asalnya.

Kebenaran itu akan selalu adalah kebenaran yang harus selalu diperjuangkan.

Bila tidak ada nabi-nabi, tentu kebaikan tidak akan pernah ada. Jika saja tidak ada para pejuang tentu kemerdekaan itu tidak akan pernah ada.
 Begitupun pembelaan, jika saja tidak ada yang berani memberikan pembelaan, tentu hak-hak hanyalah sesuatu yang akan selalu di pihak yang terkuat.

Maka aku ada karena tidak biasa melihat ketidak adilan. Aku ada karena harus ada, agar kebenaran itu akan selalu adalah sebuah kebenaran. http://septia22.blogspot.com 

Comments

Popular posts from this blog

Could Giant Animals Like Godzilla Ever Exist on Earth?

 Could Giant Animals Like Godzilla Ever Exist on Earth? Rachmatunnisa - detikInet Monday, 03 Feb 2025 20:02 WIB Has an animal as big as a mountain like Godzilla ever lived on Earth? Even dinosaurs were outclassed by it. Photo: Godzilla - 2014 (doc. imdb.) Jakarta- During the 3.5 billion years of life on Earth, the most gigantic creature created on this planet and surviving until now is the blue whale. Weighing 150 tons and 30 meters long, the blue whale is truly a giant creature. Has an animal as big as a mountain like Godzilla ever lived on Earth? Even dinosaurs were outclassed by it. Maximum Cell Growth Size From small things, big things grow, including single cells of living things. For your information, most self-replicating cells throughout the biosphere can only be seen with the aid of a microscope. The maximum growth size of a single cell involves various reasons, and all of them are based on principles embedded in chemistry and geometry. For example, the ratio of an object'...

Daftar harga HP Samsung galaxay a14 murah meriah 2024

  Daftar Harga Samsung Galaxy A14 5G Terbaru Maret 2024 dan Spesifikasi 3.3 Semua   6/128GB RAM 6 GB, Resolusi Kamera 50 MP, Ukuran Layar 6.6 inch, Kapasitas Baterai 5000 mAh Lihat selengkapnya > Harga Samsung Galaxy A14 5G Terbaru RAM 6GB ROM 128GB Rp 2.035.755

5. Reasons for the rejection of the TNI Bill

 Based on Tempo's monitoring, students who took part in the demonstration had to retreat towards Senayan Park. The police officers who walked carried tactical shields and batons. There were also police officers using two-wheeled vehicles carrying tear gas launchers. The police flanked two roads, first from the direction of Senayan Park, then from the direction of the Petamburan flyover. The students finally split into various directions such as Senayan Park, the flyover towards Semanggi and the S. Parman toll road. Tempo also monitored that several students were arrested by the police. The officers who used two-wheeled vehicles chased the protesters. Two motorbikes belonging to the demonstrators were forced to be abandoned by them so as not to be caught by the police. 5. Reasons for the rejection of the TNI Bill The ratification of the TNI Bill was rejected, one of which was from the Indonesian Caucus for Academic Freedom (KIKA). In an online press conference titled “Legislative Cr...