TANAH ASAL, NEGRI PARA RAJA RAJA.
Siang ini masih the same just like before. Tidak ada yang istimewa untuk diceritakan selain 'Waiting without doing a thing at all' artinya masih Spend out My Time just like that. And flowing no meaning inside till the day had come.
Hanya saja...disini ada banyak sekali Obat Cuci Mata yang cukup menghibur meskipun 'Can See it, can't enjoy it'.
But, it's okay because barangkali God asking Me to enjoy the time. Full of restless and manjakan diri dengan secangkir kopi full of variety. Ada 'Mirna Coffee(Vietnam Coffee). Latte and something bad. Expresso Coffee...wuw...
it's so tasty and makes my tongue 'Kepleset' Man! Haha...
ternyata Negeri Para Raja-raja ini fullfill of Pretty Woman. Tinggi Langsing(bukan dada rata), White Skin(Almost White) dengan Rambut Lurus Hitam menjulai. Wow....it's so exciting lah pokoknya, sampai-sampai forgetting of my village.
Dan ternyata semua harus mendobrak schedule yang telah ditetapkan karena masih ada yang kurang disana sini sebagai penunjang keperluan perlengkapan.
Apapun itu, Saya merasa just like at home disini, karena ada warna-warna yang mencerahkan meskipun my pocket is getting more 'Menciut' menyusut seperti Bubble blooming. And Crashing.
Oh ya, disini ada sesuatu yang membuat Saya feel comforted too.
Saat menjelang Subuh, Syaich Sa'ad Al Ghamidy dan Many other masih setia to wake me up early everyday.
Dan hanya disini Saya masih diingatkan oleh Sirine dan Lantunan Murathal serta Adzan menjelang masuk waktu shalat.
My God bless You "Cage Stone" dan jadilah sebuah negeri yang tidak tergerus oleh jaman, forever!!!
Apapun itu, masyarakat nya hebat dengan konsistensinya menjaga eksistensi Agama Nenek Moyang untuk tetap dihargai sebagai Tuan Rumah dinegeri sendiri, yaitu Negeri yang telah melahirkan suku-suku di Minangkabau. Negeri Tanah Asal, Negeri Para Raja-Raja.
(Kemaren Saya jalan-jalan ke Negeri Terindah di dunia "Pariangan". Tahu apa yang Saya dapatkan? Ternyata masyarakat Kaum Muda nya belum benar-benar mampu untuk beradaptasi dengan komunitas majemuk sehingga Saya tidak benar-benar mampu menikmati God Creation dalam bentuk Panorama Alam, padahal Negeri Mereka sudah dicatatkan sebagai Salah Satu Destinasi Wisata).
Mudah-mudahan didengar oleh Pihak Terkait dan diberikan bentuk-bentuk "Learning Service" to them(Terutama Kaum Mudanya agar bisa sedikit lebih ramah dalam menerima visitors) agar Mereka bisa lebih dewasa dan diharapkan mereka bisa mempersembahkan a purity of God creation to the world wide.

Comments
Post a Comment