DI SAAT NAFAS AKAN BERAKHIR, MAKA TERSADARLAH DIRI YANG ANGKUH BAK SEUMPAMA FIR'AUN ITU.
MAN ANA.
Tiba-tiba saja Kita merasakan sakit.
Satu-satunya jalan adalah ke Rumah Sakit. Lalu ditangani oleh yang ahlinya.
Ternyata Kesembuhan tidak semudah datangnya Sakit. Untuk sembuh Kita butuh waktu, butuh istirahat, butuk ketenangan.
Satu hari, dua hari. Sebulan dan kemudian mungkin ber bulan-bulan.
Lalu Sanak Saudara mulai menjenguk.
Senyuman adalah hal yang wajib, karena upaya dokter adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan kesembuhan tersebut.
Ada sebab, ada akibat. Ada aksi kemudian ada reaksi.
Dokter tidak menyembuhkan melainkan berusaha. Obat juga bukan penyembuh melainkan upaya.
Ternyata setelah sekian waktu, tidak terasa telah mulai berjumlah tahunan, bukan bulanan tapi waktu yang telah cukup lama.
Kata Dokter, ini sudah stadium akhir.
Dan tiba-tiba asa mulai leleh dan mencair mengalir melalui mata.
Kita menangis, kita bersedih dan mulai hilang pedoman.
Pada saat itu kesadaran mulai tumbuh. Kita yang dulunya lupa bila hidup tidak abadi, kini telah merengek kecut kepada Tuhan. Kita yang dulu bak seumpama Fir'aun yang angkuh sehingga membangun Pyramid hanya demi untuk melihat Tuhan, kini bak seumpana bayi kecil mungil yang tidak berdaya selain menagis sebagai upaya mendapatkan belas asih.
Ternyata Takdir berkata lain, ternyata ini adalah bilangan akhir dari usia yang akan Kita kecap.
Dengan segenap kecut yang membongkah, satu-satunya upaya adalah Pendekatan Diri kepada Tuhan, satu-satunya jalan adalah Spiritualitas yang akan menuntun ketidak siapan jiwa untuk siap menempuh sisa nafas terakhir itu.
Lalu kematian tiba, dan sadarlah diri bahwa Kita bukan siapa-siapa yang tidak abadi dan pasti akan kembali kepada-Nya sebagai Sang Pemilik kemaha mutlakan dan tidak tersanggahkan, yaitu Tuhan.
Maka dari itu, mengapa menyimpan segala angkuh itu? Kenapa memelihara kesombongan bila pada akhirnya semuanya tidak bermakna apa-apa selain akan ditinggalkan?

Comments
Post a Comment