Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2014

tuk soul mate

Sayang … disaat ini aku terbangun dari mimpi Disaat mentari bahkan belum muncul dari ufuk timur Disaat cahayanya belum terang dan membelah cakrawala Disaat aku masih merasa kedinginan didekapan guling dan selimut tua Sayang … disaat ini aku terbangun dari tidurku Diantara sadar dan tidak aku membayangkan dirimu Membekap erat tubuh hinaku; mencium mesra bibir keringku Mengusap lembut kulit kasarku Sayang … disaat ini aku terbangun dari asaku Antara merindukan dirimu dan mentari aku termangu Antara menginginkan hangatnya dirimu dan mentari aku berseru pada-Nya Antara keinginan untuk mencintai dan kebebasan aku berdoa Sayang … aku masih tertidur walau mataku mendelik tajam keawang-awang Aku masih bermimpi disaat ku sadar aku telah berdiri Aku masih mengigau disaat aku sedang menulis Aku masih berharap disaat harapan itu mungkin telah pergi Sayang … disini bersama kesendirianku Aku ingin mencari secuil asa dan ingin kuharubirukan dunia ini Dengan cinta dan sentu...

mengapa selingkuh

Ya, tipe tulisan yang biasa-biasa saja ~ memangnya selama ini tulisanku ga biasa :mrgreen: ~ Tertarik saat ada seorang teman yang menceritakan penderitaan karena adanya perselingkuhan dalam hubungannya. Parahnya si kekasih yang brengsek karena ga punya mata yang baik karena melentarkan temanku yang cantik ini bilang kalau dia melakukannya karena kurang mendapat perhatian dari temanku. Ah, kasian temanku yang cantik ini … * sambil merangkul mencoba memberi semangat * Maka saya memutuskan untuk menulis sebelum mengajar di hari yang terakhir sebelum pulang kampung di besok hari, mengeluarkan unek-unek biar gak mengganggu nantinya

kau hilang

Bayangmu semburat Memantul dari balik kabut di seberang sungat besar … dan angin yang coba tiup kabut itupun, kucoba halangi dengan tangan dengan siulan dengan hardikan Tapi tak bisa ! Karna bayang itu yang kukira bayangmu ternyata tak lebih daripada siluet pepohonan di seberang sungai didepan bulan ditepian sungai besar Sesaat kemudian bayangmu pun akhirnya, sirna … hilang tak berbekas hingga ku hanya sanggup ucapkan sampai jumpa dipintu surga ….

cita-citaku hanya setinggi ranjang

Aku tertegun, tak tahan aku Kaki ku sakit, tak diam aku Bibirku ngilu, tak ingin aku Hatiku kelu, tak tahu aku Ah, dinda purnama tertutup abu Kapan kah rasa kan tersampaikan? Apakah saat menunggu kalbu ini menghilang Atau kupaksa tuk mengatakan lalu ku pergi … Disini dinda aku memulai, tak tentu arah, tak jua jadi Apakah diri blum dewasa? tak cukup muda tuk temanimu, sehari semalam di piraduan

aku lelah dari sadar

Aku lelah, bukan karena ingin menyerah … Hatiku pilu, bukan karena patah hati; Tapi dimana perhentian ini berlaku, ini yang buatku tersedak Terduduk pada kursi pesakitan, tempat pesakitan para pekerja Tempat perkosaan pemikiran berlaku Tanpa ada tempat untuk mengadili, serta tiada saat untuk bertahan; Selain diam tanpa daya; menunggu vonis mati dari para tuhan tanpa nama Yang saling bersenggolan memberi upeti di bawah meja Aku sadar kini dalam kemabukanku tentang kita; Aku sadar kini tentang kekuatiranmu tentang diriku; Aku bisu tuli tentang riak kecil dalam hatimu; Akal sehat ku berlalu dari hati, tercabut dari tempat seharusnya Lalu apa maumu kini? Apa memang semua harus berlalu tanpa harus ada pertalian kembali Atau memang ada jalan untuk kembali segarkan diri Kembangkan sikap untuk peduli dan mencari sekedar sebuah pembenaran Tentang pertanyaan kemana sebenarnya engkau inginkan aku pergi Ah, apa aku harus maju dan meraih apa yang tlah ada, atau aku harus per...

kau memang pengecut

Aku memilihmu, bukan karena aku yakin … tapi karena aku bodoh percaya dengan roman percintaan aku mengiginkanmu karena, aku yakin cintaku akan berjalan bak gunung dan lembah yang memabukkan Tapi ternyata semuanya ini tiada berujung pada percintaan sejati karena yang muncul kembali di hatiku adalah percintaan satu malam di tempat paling keji disuatu sudut belantara dunia paling kelam aku, karena aku lelaki brengsek yang terlahir dari liang rahim penggoda dari cinta yang tiada jelas siapa lelakinya … aku, memutuskan diri untuk menyerah dan lari tapi dunia tiada pernah mau tahu masa laluku selalu menjadi hantu … ah, tolong maafkanlah … disaat ku tahu kau mau tulus menerima diriku, aku telah berpaling dan kalah dengan ketakutanku lalu memilih untuk lari dan menjadi serigala kembali ————————————————————— Kadang kita berpikir begitu kurang dan bahkan menjadi orang terhina saat berjalan dengan sepatu kulit butut yang tidak mengkilat bak kaca lagi, sampai ...

kasih jadilah tempatku untuk menangis

Kalau memang sedemikian rapuhnya hati ini, tentu saja aku akan pergi menjelajahi dunia fana dan menyeberang ke dunia mimpi. Bertemu dengan kupu-kupu surga yang berterbangan kian kemari, hinggap diantara bebungaan taman yang indah tempat para malaikat saling bercanda dan mungkin bersendawa. Ya! Mungkin saja aku terlalu naif untuk menjadikan dirimu sebagai pelukan terakhir di akhir tidurku. Tapi tidaklah hal ini juga menjadikan diriku sebagai lelaki yang siap untuk dirimu jadikan kacung di episode dari drama kehidupmu, seperti seekor kerbau yang telah kau tusuk hidungnya dengan gelang kecil yang bisa kau paksa untuk kau kendarai dengan liar kesana kemari; lalu dijadikan pembajak sawahmu? Tapi walaupun demikian, disaat perhatianmu adalah menjadikan diriku cerita indah di akhir cerita kehidupanmu di Dunia, tidaklah aku inginkan agar dirimu lebih mengharapkan Surga dibandingkan keinginan untuk selalu bersamaku di Dunia fana ini. Karena di surga tiada lagi dirimu dan aku b...

inikah rasanya dicuekin kamu

Rasanya dicuekin oleh kamu, wahai kamu wanita terkasihku yang tiada bandingannya; adalah lebih sakit daripada kekesalan hati disaat ingin makan duren di musim buah rambutan, seperti rinduku untuk bertemu Luna Manyun malah ketemu sama Mbok Inem si penjual jamu yang disaat kau penuh rasa cemburu saat menangkap mataku menatap buah pantatnya yang bahenol lagi berisi, dan kau damprat diriku sembari bilang tiada seksi-seksinya wanita seperti itu, seperti mo dengar lagu Rosa di rumah mu saat ku menunggu dirimu memasak kue jawau [1] , tapi yang keluar malah lagu dangdutnya Denada dari kamar kakamu, dan yang paling parah wahai dikau terkasihku yang selalu kurindukan di tiap detik kehidupanku? adalah saat ku merasakan sakit ini seperti perasaan terparahku disaat ingin beol tapi gak ketemu WC … Tolong, tolong jangan hukum aku seperti ini lagi … Karena ini sakit… dan apabila kau coba lagi untuk terka bagaimana lenturnya kesabaranku atas dirimu … mungkin yang akan kita dapatka...

aku kehilangan kelelakianku

Aku berjalan agak berbungkuk, napasku memburu cepat menangkap udara, mataku nanar menatap kedepan, kakikupun kulangkah pendek tapi cepat mendekati lari. Tapi tangan kananku tetap saja kumasukkan kedalam kantong jaket tebal hitam dari kulit, serta tangan kiri yang sesekali mengusap keringat dingin yang mulai berganti dengan keringat asin tanda tubuh mulai memanas. Aku masih sibuk untuk berpikir dengan hati, saat sesekali jantungku berdebup kencang dan darahku dikompa dengan deras melewati kedua belah bilik jantungku. Lalu respon yang terjadi kadang tidak sama dengan sensasi yang kurasa dibagian lain dari dadaku, saat irama yang semula santai mulai berdetak dengan cepat. Kurasa memang ini biasa atau kalaupun tidak normal, ini merupakan sebuah perwujudan obsesi seorang pemuda lajang tak beristri … Tidak! Pisau dari nuraniku menikam hatiku lagi, membuat perih dan borok luka kembali dibuat sembari tak lupa kepedihan yang teramat mulai menggelayap dipunggung membuat bulu ...

obat penawar derita

Alkisah, ada seorang ibu muda yang sudah berhari-hari tidak makan, hingga tubuhnya semakin kurus saja. Seorang tabib tua memeriksa denyut nadinya, lalu berkata: “Anda memendam begitu banyak masalah dalam hati Anda, sehingga badan menjadi lemah Karena sebenarnya Anda tidak memiliki penyakit yang parah.” Setelah mendengar diagnosis sang tabib, ibu muda itu merasa sangat lega seperti terlepas dari beban berat. Kemudian, ibu muda itu pun menceritakan semua masalahnya pada sang tabib. Tabib tua pun bertanya, “Bagaimana perasaan suami Anda terhadap Anda?” Si ibu muda menjawab dengan tersenyum, “Sangat menyayangi saya.” Tabib tua bertanya lagi, “Apakah punya anak?” Dengan penuh ceria si ibu muda menjawab, “Ada, seorang putri, sangat pengertian….” Selagi tadi bertanya, sang tabib pun menuliskan sesuatu. Setelahnya, ia memperlihatkan tulisannya di dua kertas pada si ibu muda itu. Lembar yang satu bertuliskan masalah si ibu muda, dan lembaran yang lain berisikan sukacita si ibu muda....

jalan hidupku bercabang

Dua jalan bercabang dalam remang hutan kehidupan Dan sayang aku tidak bisa menempuh keduanya Dan sebagai pengembara, aku berdiri lama Dan memandang ke satu jalan sejauh aku bisa Kemana kelokannya mengarah di balik semak belukar Kemudian aku memandang yang satunya, sama bagusnya, Dan mungkin malah lebih bagus, Karena jalan itu segar dan mengundang Meskipun tapak yang telah melewatinya Juga telah merundukkan rerumputan, Dan pagi itu keduanya sama-sama membentang Di bawah hamparan dedaunan rontok yang belum terusik Oh, kusimpan jalan pertama untuk lain kali ! Meski tahu semua jalan berkaitan Aku ragu akan pernah kembali Aku akan menuturkannya sambil mendesah Suatu saat berabad-abad mendatang Dua jalan bercabang di hutan, dan aku… Aku menempuh jalan yang jarang dilalui Dan itu mengubah segalanya